KONSEKWENSI DO’A (II)

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa setiap do’a atau permintaan mempunyai konsekwensi berupa ikhtiyar dan usaha yang sungguh-sungguh untuk mewujudkannya. Begitu-pula halnya dengan do’a minta “Hasanah Fîl-Âkhirat” atau Kebaikan di Akhirat.

Ada 5 (lima) aspek yang harus diperhatikan dan diimplementasikan untuk mewujudkan do’a ini menjadi kenyataan, yaitu :

1. Tauhîd.

2. ‘Amal-Shâlih.

3. Akhlaqul-Karîmah.

4. Menjauhi Dosa Besar.

5. Meninggalkan Perkara Haram dan Syubhat.

1. Tauhîd (تَوْحِيْد)

Tauhîd adalah perintah Allâh yang paling besar, dan definisinya ialah:

إِفْرَادُ اللهِ بِاْلعِبَادَةِ

Artinya :

“Mengesakan Allâh dalam ber’ibadah”.

Dan ia (Tauhîd) mencakup 3 (tiga) aspek :

Pertama : “Tauhîdur-Rubûbiyyah” (تَوْحِيْدُ الرُّبُوْبِيَّةِ), artinya : “Meng-Esa-kan dan meyakini Allâh sebagai satu-satunya Pencipta, Pemelihara dan Pengatur alam semesta. Hal ini pun diakui oleh orang-orang kafir, sebagaimana firman Allâh :

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَ اْلأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللهُ فَأَنَّى يُؤْفَكُونَ

Artinya :

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka : “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan Matahari dan Bulan ?”. Tentu mereka akan menjawab: “Allâh”. Maka bagaimana mereka (dapat) dipalingkan ?

(Surah Al-Ankabût (29) : 61)

Al-Imâm Ibnu Katsîr berkata tentang mereka :

وَ هُمْ مَعَ هَذَا يَعْبُدُوْنَ غَيْرَهُ

Artinya :

“Mereka di samping — pengakuannya terhadap “Tauhîdur-Rubûbiyyah” — ini, juga melakukan ‘ibadah (menyembah) kepada selain Allâh”.

Jadi, “Tauhîdur-Rubûbiyyah” saja atau sekedar meyakini Allâh sebagai Pencipta , tidak cukup bagi seseorang untuk menjadi seorang mu’min.

Kedua : “Tauhîdul-Ulûhiyyah” (تَوْحِيْدُ اْلأُ لُوْهِيَّةِ), artinya : “Mengesakan dan meyakini Allâh sebagai satu-satunya yang berhak disembah”, dan pengakuan ini harus dinyatakan dengan sikap, yaitu : Berdo’a atau ber’ibadah, bernadzar, menyembelih qurban, mengharap, merasa takut, berserah diri (tawakal), mohon bantuan (isti’ânah), minta perlindungan (isti’âdzah), istighâtsah dan bertaubat hanya kepada Allâh semata, sebagaimana firman-Nya :

قُلْ إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya :

“Katakanlah, sesungguhnya shalat-ku, ‘ibadah-ku, hidup-ku dan mati-ku hanyalah untuk Allâh Rabbul-‘Âlamîn”.

(Surah Al-An’âm (6) : 162)

“Tauhîdul-Ulûhiyyah” inilah yang menentukan seseorang menjadi mu’min yang bertauhîd, sebagaimana disebutkan dalam kitab “Syarah Al-‘Aqîdatuth-Thahâwiyyah” hal. 81 :

أَنَّ التَّوْحِيْدَ اْلمَطْلُوْبَ هُوَ تَوْحِيْدُ اْلإِ لَهِيَّةِ الَّذِيْ يَتَضَمَّنُ تَوْحِيْدَ الرُّبُوْبِيَّةِ

Artinya :

“Sesungguhnya Tauhîd yang dituntut — untuk menjadi mu’min — ialah “Tauhîdul-Ulûhiyyah” yang di dalamnya tercakup “Tauhîdur-Rubûbiyyah”.

Ketiga : “Tauhîdul – Asmâ’ wash – Shifât” (تَوْحِيْدُ اْلأَ سْمَاءِ وَ الصِّفَاتِ), artinya : “Menetapkan nama-nama dan shifat-shifat Allâh yang terdapat dalam Al-Qur-ân dan Hadits yang shahih”, dengan makna yang hakiki, yaitu tanpa menta’wilnya, memberikan perumpamaan (misal) padanya, mengingkarinya dan mempertanyakannya, seperti : Istiwâ (اْلإِ سْتِوَاء) atau bersemayam, turun tiap-tiap sepertiga malam yang akhir ke langit dunia, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :

يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَ تَعَالَى كُلَّ َلْيَلةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا , حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ الَّليْلِ اْلآ خِرِ , فَيَقُوْلُ: مَنْ يَدْعُوْنِي فَأَسْتَجِيْبَ لَهُ ؟ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأَعْتِيَهُ ؟ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ ؟

Artinya :

Rabb kita Yang Maha Berkah dan Maha Luhur, selalu turun ke langit dunia, pada waktu sepertiga malam yang akhir. Maka Dia berfirman : “Siapakah yang mau berdo’a kepada-Ku ? Maka Aku akan mengabulkannya. Siapakah yang mau minta — sesuatu — kepada-Ku ? Maka Aku akan memberikannya. Siapakah yang mau minta ampun pada-Ku ? Maka Aku akan mengampuninya”.

(H.R. Ahmad, Muttafaqun ‘alaih, Abû Dâwûd, At-Tirmidzî dan Ibnu Mâjah. Lihat Fathul-Kabîr juz VI hal. 361 no. : 8024)

Begitu-juga tentang tangan Allâh dll yang disebutkan dalam Al-Qur-ân dan hadits-hadits yang shahîh.

Al-Imâm Asy-Syâfi’î rahimahullâh Ta’âlâ telah memberikan kesimpulan yang baik sekali dalam masalah ini, beliau berkata :

لِلَّهِ أَسْمَاءٌ وَ صِفَاتٌ لاَ يَسِعُ أَحَدًا رَدَّهَا , وَ مَنْ خَالَفَ بَعْدَ ثُبُوْتِ اْلحُجَّةِ كَفَرَ , وَ أَمَّا قَبْلَ قِيَامِ اْلحُجَّةِ فَإِنَّهُ يُعْذَرُ بِاْلجَهْلِ , وَ نُثَبِّتُ هَذِهِ الصِّفَاتِ وَ نَنْفِي عَنْهُ التَّشْبِيْهَ . كَمَا نَفَى عَنْ نَفْسِهِ فَقَاَل ( لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَ هُوَ السَّمِيْعُ اْلبَصِيْرُ (

Artinya :

Allâh itu mememiliki beberapa nama dan shifat yang tidak boleh bagi seorang pun menolaknya. Dan siapa-saja yang menentang (menolak) — nama-nama dan shifat Allâh — setelah adanya kepastian hujjah, maka ia telah kafir. Akan tetapi, — jika penolakan itu — sebelum tegaknya hujjah, maka ia diberi alasan karena kebodohannya. Dan kami — secara pasti –menetapkan shifat-shifat — Allâh — ini, dan menolak semua bentuk persamaan, sebagaimana Allâh menolak semua persamaan dari diri-Nya, sebagaimana firman-Nya : “Tidak ada sesuatu pun yang sama dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat”.

(Surah Asyûrâ (42) : 11)

(Lihat Fathul-Majîd Syarah Kitâbut-Tauhîd oleh Asy-Syaikh ‘Abdur-Rahmân bin Hasan hal. 527)

Nama-nama dan shifat-shifat Allâh merupakan sarana untuk memperdalam pengenalan terhadap Allâh atau Ma’rifatullâh, sebagaimana disebutkan dalam kitab “Syarah Al-‘Aqîdatuth-Thahâwiyyah” hal. 120 :

وَ اللهُ تَعَالَى لاَ يَعْلَمُ كَيْفَ هُوَ إِلاَّ هُوَ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى , وَ إِنَّمَا نَعْرِفُهُ سُبْحَانَهُ بِصِفَاتِهِ

Artinya :

“Dan Allâh Ta’âlâ itu tidak ada yang tahu bagaimana Dia yang sesungguhnya (Maha Suci dan Maha Luhur Dia). Namun, kita dapat mengenal-Nya melalui shifat-shifat-Nya”.

Al-Imâm Ibnul-Qayyim (rahimahullâh) telah menegaskan betapa pentingnya mengenal nama-nama dan shifat-shifat Allâh, karena hal itu dapat menghilangkan prasangka buruk terhadap Allâh. Beliau berkata :

وَ أَكْثَرُ النَّاسِ يَظُنُّوْنَ بِاللهِ ظَنَّ السَّوْءِ فِيْمَا يَخْتَصُّ بِهِمْ , وَ فِيْمَا يَفْعَلُهُ بِغَيْرِهِمْ , وَ لاَ يَسْلَم مِنْ ذَلِكَ إِلاَّ مَنْ عَرَفَ اللهَ وَ أَسْمَاءَهُ وَ صِفَاتَهُ ,

Artinya :

“Sesungguhnya sebagian besar manusia mempunyai prasangka buruk pada Allâh dalam beberapa ketentuan (keterbatasan) yang Allâh berikan pada mereka, dan juga dalam beberapa kelebihan yang Allâh berikan kepada orang selain mereka. Tidak ada seorang pun yang selamat dari hal itu kecuali orang yang benar-benar mengenal Allâh dan nama-nama-Nya serta shifat-shifat-Nya”.

(Lihat Fathul-Majîd Syarah Kitâbut-Tauhîd oleh Asy-Syaikh ‘Abdur-Rahmân bin Hasan hal. 481)

Padahal sikap Allâh terhadap hamba-Nya sangat bergantung dari perasangka hamba itu kepada-Nya, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits qudsî, Allâh berfirman :

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِي إِنْ ظَنَّ خَيْرًا فَلَهُ , وَ إِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ

Artinya :

“Aku ada di sisi prasangka hamba-Ku terhadap-Ku. Jika ia berprasangka baik, maka — kebaikan — itu untuknya. Dan jika ia berprasangka buruk, maka — keburukan — itu baginya”.

(H.R. Ahmad. Lihat Fathul-Kabîr juz IV hal. 115 no. : 4191)

Dan Rasûlullâh saw. Bersabda :

لاَ يَمُوْتُنَّ أَجَدٌ مِنْكُمْ إِلاَّ وَ هُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ تَعَالَى

Artinya :

“Janganlah salah seorang kalian mati melainkan ia telah memperbaiki prasangkanya pada Allâh Ta’âlâ.

(H.R. Ahmad, Muslim, Abû Dâwûd dan Ibnu Mâjah. Lihat Fathul-Kabîr juz VI hal. 252 no. : 7669)

Tauhîd dengan berbagai aspeknya merupakan syarat utama untuk masuk surga selamat dari neraka, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :

مَنْ مَاتَ لاَ يُشْرِكْ بِاللهِ شَيْئًا دَ خَلَ اْلجَنَّةَ

Artinya :

“Siapa-saja yang mati dengan tidak menyekutukan Allâh dengan sesuatu pun,maka ia masuk surga”.

(H.R. Ahmad dan Muttafaqun ‘alaih. Lihat Fathul-Kabîr juz V hal. 358 no. : 6426)

Ber’ibadah kepada Allâh dengan Tauhîd, yaitu tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu-pun merupakan hak Allâh terhadap semua hamba-Nya, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :

حَقُّ اللهِ عَلَى اْلعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوْهُ وَ لاَ يُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا

Artinya :

“Hak Allâh atas para hamba-Nya ialah, mereka wajib ber’ibadah kepada-Nya,dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu-pun”.

(H.R. Al-Bukhârî dan Muslim)

Lawan dari Tauhîd ialah Syirik atau menyekutukan Allâh. Menyekutukan Allâh adalah dosa yang paling besar dan tidak diampuni, sebagaimana firman Allâh :

إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

Artinya :

“Sesungguhnya Allâh tidak akan mengampuni jika Dia disekutukan. Dan Dia megampuni dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang-siapa yang menyekutukan Allâh, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”.

(Surah An-Nisâ’ (4) : 48)

Dan Rasûlullâh saw. bersabda mengenai hal ini :

وَ مَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا دَ خَلَ النَّارَ

Artinya :

“Dan siapa-saja yang mati dengan menyekutukan Allâh dengan sesuatu, maka ia masuk neraka”.

(H.R. Ahmad dan Muslim. Lihat Fathul-Kabîr juz V hal. 358 no. : 6427)

2. ‘Amal Shâlih (عمل صالح)

‘Amal Shâlih artinya perbuatan yang baik. Dan masalah ini telah dijelaskan dengan panjang lebar dalam pembahasan-pembahasan sebelumnya. Adapun yang dimaksud di sini ialah melakukan semua yang diwajibkan Allâh dan Rasûl-Nya, sesuai dengan kemampuannya, dan meninggalkan semua yang dilarang oleh Allâh dan Rasûl-Nya.

‘Amal Shâlih adalah bukti atau manifestasi dari imân, dan Al-Qur-ân selalu menggandeng sebutan “orang-orang yang beriman” (الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا) dengan “dan ber’amal shâlih” (وَ عَمِلُوْا الصَّالِحَاتِ).

Al-Qur-ân banyak sekali menyatakan bahwa surga itu diberikan kepada orang-orang yang berimân dan ber’amal shalîh atau melakukan perbuatan yang baik, sebagaimana firman Allâh :

وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَ لاَ يُظْلَمُونَ نَقِيرًا

Artinya :

“Dan siapa-saja yang mengerjakan ‘amal shâlih, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia orang yang berimân, maka mereka akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walaupun sedikit”.

(Surah An-Nisâ’ (4) : 124)

3. Akhlâqul-Karîmah (أخلاق الكريمة)

Kata Akhlâq (أَخْلاَق) , merupakan bentuk jama’ dari kata “Al-Khulq (اْلخُلْق)” dan “Al- Khuluq (اْلخُلُق)“, yang artinya ialah :

Ø Al- Muru-ah (اْلمُرُوْءَة) artinya : “Adab yang baik”.

Ø Al-‘Âdah (اْلعَادَة) artinya : “‘Adat atau kebiasaan”.

Ø As-Sajiyyah (السَّجِيَّة) artinya : “Perangai”.

Ø Ath-Thab’u (الطَّبْعُ) artinya : “Tabi’at”.

Jadi, Akhlâqul-Karîmah (أَخْلاَقُ اْلكَرِيْمَة) artinya : “Adab, adat, perangai dan tabi’at yang mulia”. Definisi Al-Khuluq (اْلخُلُق) atau Akhlâq dari segi bahasa ialah :

هُوَ مَا يَأْخُذُهُ اْلأِنْسَانُ نَفْسَهُ مِنَ اْلآدَبِ يُسَمَّى خُلُقًا

Artinya :

“Apa saja yang dipegang atau dijadikan pegangan oleh setiap manusia bagi dirinya daripada adab disebut khuluq”.

(Lihat Tafsîr Al-Qurthubî)

Maksudnya, Al-Khuluq atau Akhlâq ialah segala tata-krama atau adab yang dijadikan pegangan oleh setiap manusia.

Pada dasarnya manusia baik sebagai individu atau kelompok (suku) telah memiliki adab, adat, perangai dan tabi’at atau tata-kerama dengan ukuran atau kadar yang berbeda-beda, sebagaimana dinyatakan oleh Rasûlullâh saw. :

إِنَّ اللهَ قَسَمَ بَيْنَكُمُ أَخْلاَقَكم كَمَا قَسَمَ بَيْنَكُمُ أَرْزَاقَكُمْ

Artinya :

“Sesungguhnya Allâh membagi-bagikan akhlâq kalian di antara kalian sebagaimana Dia membagikan rezeki di antara kalian….”.

(H.R. Ahmad)

Hal ini sudah dimaklumi, dan salah satu misi Islâm ialah menyempurnakan akhlâq, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُ تَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخَلاَقِ

Artinya :

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kebaikan akhlâq”.

(H.R. Ibnu Sa’ad, Al-Bukhârî dalam “Al-Adab”, Al-Hâkim dan Al-Baihaqî. Lihat Fathul-Kabîr juz II hal. 285 no. : 234)

‘Abdullâh bin Mubârak menyebutkan bahwa akhlâq yang baik itu ialah :

هُوَ بَسْطُ اْلوَ جْهِ , وَ بَذْلُ اْلمَعْرُوْفِ , وَ كَفُّ اْلأَ ذَى

Artinya :

“Wajah yang berseri-seri, dermawan terhadap kebaikan dan mencegah hal yang menyakitkan”.

(Lihat Tafsîr Al-Qurthubî)

Di bawah naungan Islâm, masing-masing orang dapat mengembangkan akhlâq atau karakternya, sesuai dengan tabi’at asli pribadinya yang berbeda-beda itu menuju kearah kesempurnaan. Dan sempurnanya imân — dalam pandangan Islâm — terpancar oleh baiknya akhlâq, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :

أَكْمَلُ اْلمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أًحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Artinya :

“Orang-orang mu’min yang paling sempurna imânnya ialah (mereka) yang paling baik akhlâqnya”.

(H.R. Ahmad, Abû Dâwûd, Ibnu Hibbân dan Al-Hâkim. Lihat Fathul-Kabîr juz I hal. 391 no. : 1241)

Ahklâq yang baik merupakan investasi yang paling besar di hari qiyamat, sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :

أَثْقَلُ شَيْءٍ فِي اْلمِيْزَانِ اْلخُلُقُ اْلحَسَنُ

Artinya :

“Lebih beratnya sesuatu — ‘amal — dalam timbangan adalah akhâlq yang baik”.

(H.R. Ibnu Hibbân. Lihat Fathul-Kabîr juz I hal. 98 no. : 133)

4. Menjauhi Dosa Besar

Menjauhi dosa besar merupakan persyaratan berikutnya untuk masuk surga, sebagaimana firman Allâh :

إِنْ تَجْتَنِبُوْا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَ نُدْ خِلْكُمْ مُدْ خَلاً كَرِيْمًا

Artinya :

“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kalian mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahan kalian (dosa-dosa kalian yang kecil) dan Kami masukkan kalian ke tempat yang mulia (surga)”.

(Surah An-Nisâ’ (4) : 31)

Ayat ini merupakan janji Allâh bagi siapa-saja yang meninggalkan dosa-dosa besar, maka dosa-dosa kecilnya yang telah dilakukannya akan diampuni dan ia akan dimasukkan ke dalam surga.

Adapun yang dimaksud dosa besar menurut Ibnu ‘Abbâs ialah :

كُلُّ ذَنْبٍ خَتَمَهُ اللهُ بِنَارٍ أَوْ لَعْنَةٍ أَوْ عَذَابٍ

Artinya:

“Setiap perbuatan dosa yang ditetapkan oleh Allâh — dengan ancaman — neraka, laknat dan ‘adzab”.

(Diriwayatkan oleh Ibnu Jarîr. Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr juz I hal. 486)

Pangkal dosa besar itu ada 7 (tujuh), sebagaimana sabda Rasûlullâh saw. :

إِجْتَنِبُوْا السَّبْعَ اْلمَوْبِقَاتِ قَالُوْا : يَا رَسُوْلَ اللهِ , وَ مَا هُنَّ ؟ قَالَ : الشَّرْكُ بِاللهِ وَ السِّحْرُ وَ قَتْلُ النَّفْسِ الَّتِيْ حَرَّمَ اللهُ إِلاَّ بِاْلحَقِّ وَ أَكْلُ الرِّبَا وَ أَكْلُ اْلمَالِ اْليَتِيْمِ وَ التَّوَ لَى يَوْمَ الزَّحْفِ وَ قَذْفُ اْلمُحْصَنَاتِ اْلغَافِلاَتِ اْلمُؤْمِنَاتِ

Artinya :

“Jauhilah 7 (tujuh) perkara yang merusak”. Mereka bertanya : “Ya Rasûlullâh, apa sajakah itu?”. Beliau bersabda : “Menyekutukan Allâh (syirik), melakukan sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allâh kecuali dengan alasan yang benar, makan riba, makan harta anak yatim, lari dari pertempuran (desersi) dan menuduh perempuan baik-baik yang memelihara dirinya serta beriman kepada Allâh dengan tuduhan yang keji (berbuat zina)”.

(H.R. Al-Bukhârî dan Muslim. Lihat Fathul-Majîd Syarah Kitabut-Tauhîd hal. 288 – 290)

Para ‘ulamâ’ menambahkan, bahwa termasuk dosa besar juga yaitu : berzina, homo seks, minum khamar, mencuri, merampok, menuduh dengan tuduhan palsu, tidak berpuasa di bulan Ramadhân tanpa ‘udzur (alasan), sumpah durhaka, memutus hubungan famili, durhaka kepada kedua orang-tua, curang dalam menakar dan menimbang, sengaja memajukan shalat di luar waktunya atau terlambat mengerjakannya, memukul seorang muslim tanpa alasan, berdusta atas nama Rasûlullâh saw. dengan sengaja, mencaci-maki para shabat Rasûlullâh saw., menyembunyikan persaksian tanpa alasan, melakukan sogok menyogok (risywah), bergaul bebas antara laki-laki dengan perempuan, mengadu-ngadu di depan penguasa (cari muka), tidak mau membayar zakat, meninggalkan amar-ma’rûf nahî-munkar padahal mampu, melupakan ayat-ayat Al-Qur-ân yang telah dihafal, membakar binatang hidup-hidup, menghalang-halangi wanita dari suaminya tanpa alasan, putus-asa dari rahmat Allâh, merasa aman (tidak takut) dari siksa Allâh, mencela atau menghina ahli ilmu dan ahlul-Qur-ân, sumpah zhihar, makan daging babi dan bangkai bukan karena terpaksa.

(Lihat Tafsîr Ibnu Katsîr juz I hal. 487)

5. Meninggalkan Perkara Syubhat Dan Haram

Syubhat artinya sesuatu yang samar-samar, dan menimbulkan keraguan dalam hati, yaitu tidak jelas halal atau haramnya. Rasûlullâh saw. telah bersabda mengenai hal ini :

اْلحَلاَلُ بَيِّنٌ وَ اْلحَرَمُ بَيِّنٌ , وَ مَا بَيْنَهُمَا أُمُوْرٌ مُشْتَبِهَةٌ فَمَنْ تَرَكَ مَا شُبِّهَ عَلَيْهِ مِنَ اْلإِ ثْمِ كَانَ لِمَا اسْتَبَانَ أَتْرَكَ وَ مَنِ اجْتَرَأَ عَلَى مَا يَشُكُّ فِيْهِ مِنَ اْلإِ ثْمِ أَوْ شَكَ أَنْ يُوَاقِعَ مَا اسْتَبَانَ وَ اْلمَعَاصِي حِمَى اللهُ مَنْ يَرْتَعَ حَوْلَ اْلحِمَى يُوْ شِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ

Artinya :

“Yang halal itu jelas dan yang haram itu juga jelas, dan di antara kedua hal itu terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar). Maka barang-siapa yang meninggalkan perkara yang syubhat (samar) baginya karena takut dosa, akan mudahlah baginya untuk meninggalkan perkara yang jelas — mengandung dosa –. Dan barang-siapa yang berani menerjang perkara yang meragukan tentang dosa — dan tidaknya –, maka sangat mungkin apabila ia terjerumus dalam perkara yang jelas — mengandung dosa –. Dan perbuatan maksiat itu larangan Allâh, dan siapa-saja yang berputar di sekitar larangan, maka mungkin sekali jika ia melanggarnya”.

(H.R. Al-Bukhârî juz III hal. 70)

Hadîts ini menegaskan, bahwa siapa-saja yang dapat meninggalkan perkara-perkara yang syubhat, akan lebih mudah baginya untuk memelihara diri dari perkara-perkara yang jelas-jelas haram dan mengandung dosa, begitu-pula sebaliknya, siapa-saja yang berani melakukan perkara-perkara yang syubhat, maka akan mudahlah baginya untuk terjerumus dalam perkara-perkara yang jelas-jelas haram dan mengandung dosa. Oleh karena itu Rasûlullâh saw. memerintahkan umatnya untuk meninggalkan semua perkara yang meragukan, sebagaimana sabda Beliau saw. :

دَعْ مَا يُرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يُرِيْبُكَ

Artinya :

“Tinggalkanlah apa saja yang meragukan-mu kepada apa yang tidak meragukan-mu”.

(H.R. Ahmad, An-Nasa-î, Ath-Thabrânî dan Al-Khatîb. Lihat Fathul-Kabîr juz II hal. 144 no. : 3372)

Maksudnya, segala perkara yang syubhat atau meragukan tinggalkan, dan pilihlah perkara yang tidak meragukan.

(Wallâhu A’lam)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: